13 Spektroskopi & Kimia Organik (2025)
Soal #8–#17 OSN-K Kimia 2025. Coba dulu, pakai petunjuk/referensi, baru buka pembahasan.
13.1 Soal 8

Suatu senyawa organik mengandung atom C, H, O, dan N dengan data analisis unsur sebagai berikut: C 59,37%; H 10,96%; N 13,85%, dan O 15,82%. Data spektrum massa senyawa ini menunjukkan puncak m/z pada 101,08. Senyawa ini memiliki puncak serapan khas pada spektrum IR di sekitar bilangan gelombang 1700 cm–1, serta sinyak khas pada geseran kimia 202 ppm dalam spektrum 13C-NMR. Senyawa ini memiliki spektrum 1H-NRM sebagai berikut. Berdasarkan informasi wacana data spektroskopi di atas, struktur senyawa ini adalah ….
- A. 2-(tetrahidrofuran-2-il)etilamina — cincin THF (eter) dengan gugus -CH(NH2)CH3
- B. N-metilbutanamida — CH3CH2CH2-C(=O)-NH-CH3
- C. 3-amino-3-metilbutanal — (CH3)2C(NH2)-CH2-CHO (gem-dimetil)
- D. 2,6-dimetilmorfolina — cincin morfolin (N-H, O) dengan dua gugus metil
- E. 3-(dimetilamino)propanal — (CH3)2N-CH2-CH2-CHO
- Hitung rumus molekul dari data analisis unsur dengan mengubah persen ke perbandingan mol, lalu cocokkan dengan \(m/z\) dari spektrum massa untuk menentukan \(M_r\) dan rumus molekul pasti. Dari rumus molekul, hitung Degree of Unsaturation (DBE) = \(\frac{2C+2+N-H}{2}\) untuk tahu berapa ikatan rangkap/cincin yang ada.
- Gunakan dua data spektroskopi sekaligus: serapan IR ~1700 cm⁻¹ dan sinyal \(^{13}\)C-NMR ~202 ppm untuk mengidentifikasi jenis gugus karbonil yang tepat — bedakan apakah itu aldehida, keton, amida, atau ester berdasarkan posisi geseran kimia \(^{13}\)C khasnya.
- Perhatikan pola integral dan multiplisitas pada spektrum \(^1\)H-NMR: sinyal singlet dengan integrasi 6H di sekitar ~2,9 ppm adalah petunjuk kuat keberadaan gugus tertentu yang mengandung nitrogen; bandingkan posisi geserannya dengan posisi yang diharapkan jika gugus metil terikat pada karbon biasa (~1,2 ppm).
Langkah 1 — Rumus molekul & DBE. Dari analisis unsur (C 59,37%, H 10,96%, N 13,85%, O 15,82%) dan \(m/z = 101{,}08\) diperoleh C₅H₁₁NO (\(M = 101\)). Derajat ketaktidakjenuhan \(\text{DBE} = \dfrac{2(5)+2+1-11}{2} = 1\) → ada satu ikatan rangkap (satu gugus C=O, tanpa cincin tambahan).
Langkah 2 — Identifikasi gugus karbonil. Serapan IR kuat di 1700 cm⁻¹ dan puncak ¹³C di ~202 ppm khas karbonil aldehida (\(\ce{-CHO}\)). Ini menyingkirkan amida (¹³C C=O amida ~170 ppm) → bukan B. Sinyal ¹H di ~9,7 ppm mengonfirmasi proton aldehida \(\ce{-CHO}\).
Langkah 3 — Baca singlet 6H di ~2,9 ppm. Spektrum ¹H menampilkan singlet integrasi 6H yang cukup downfield (~2,9 ppm). Enam proton ekuivalen yang menempel pada N adalah ciri N(CH₃)₂. Bila gem-dimetil terikat pada karbon (opsi C), singletnya akan muncul di ~1,2 ppm — dan ini tidak teramati, jadi bukan C.
Langkah 4 — Susun & eliminasi. Gabungkan \(\ce{-CHO}\) + \(\ce{N(CH3)2}\) dengan sisa \(\ce{-CH2CH2-}\): \[\ce{(CH3)2N-CH2-CH2-CHO}\] yaitu 3-(dimetilamino)propanal. Opsi A (THF, eter — tanpa C=O) dan D (morfolin — tanpa C=O) gugur karena tidak punya aldehida pada 202 ppm/1700 cm⁻¹.
Jawaban: E.
13.2 Soal 9

Di antara pernyataan berikut yang paling tepat menggambarkan reaksi yang dapat terjadi pada senyawa yang bersesuaian dengan wacana doal sebelumnya adalah ….
- A. Ketika direaksikan dengan hidroksilamina akan menghasilkan senyawa oksim
- B. Ketika dihidrolisis dalam suasana asam akan menghasilkan asam karboksilat dan amina
- C. Ketika direaksikan dengan formaldehid akan menghasilkan senyawa imina
- D. Ketika direaksikan dengan aseton akan menghasilkan senyawa enamina
- E. Ketika direaksikan dengan asetil klorida akan menghasilkan senyawa amida
- Sebelum menilai reaksi, pastikan kamu sudah mengidentifikasi senyawa dari soal sebelumnya: perhatikan gugus fungsi apa yang ada (aldehida, amida, amina primer/sekunder/tersier?) berdasarkan data IR dan \(^1\)H/\(^{13}\)C NMR.
- Fokus pada reaktivitas gugus karbonil aldehida terhadap nukleofil bernitrogen (hidroksilamina, amina primer, amina sekunder) — ingat bahwa pembentukan oksim, imina, dan enamina masing-masing mensyaratkan jenis amina yang berbeda (primer vs. sekunder).
- Periksa apakah amina dalam senyawa ini memiliki atom H pada nitrogen (\(\ce{N-H}\)) atau tidak — ini penentu utama reaksi mana yang bisa dan mana yang tidak bisa berlangsung.
Identifikasi dulu senyawa dari Soal #8 (wacana sebelumnya).
Langkah 1 — Rumus molekul dari analisis unsur. Per 100 g: \(\frac{59{,}37}{12}=4{,}95\) C; \(\frac{10{,}96}{1}=10{,}96\) H; \(\frac{13{,}85}{14}=0{,}989\) N; \(\frac{15{,}82}{16}=0{,}989\) O. Bagi dengan 0,989: C:H:N:O \(= 5:11:1:1\), jadi \(\ce{C5H11NO}\) (\(M=101\), cocok dengan m/z 101,08). Derajat ketaktidakjenuhan \(=\frac{2(5)+2+1-11}{2}=1\) (satu ikatan rangkap).
Langkah 2 — Gugus fungsi dari spektrum. IR \(1700\ \text{cm}^{-1}\) = gugus \(\ce{C=O}\). Geseran \(^{13}\)C \(202\) ppm sangat downfield, khas karbon aldehida/keton, BUKAN amida (amida $$170 ppm). \(^1\)H-NMR memberi puncak 1H di $\(9,7 ppm = proton **aldehida** (\)$). Jadi senyawa adalah amino-aldehida dengan amina tersier: \(\ce{(CH3)2N-CH2-CH2-CHO}\) (3-(dimetilamino)propanal), sesuai integrasi 1:2:2 untuk CHO dan dua \(\ce{CH2}\) (plus puncak besar 6H dari \(\ce{N(CH3)2}\)).
Langkah 3 — Uji tiap pernyataan. Senyawa punya gugus aldehida + amina tersier (tanpa N–H).
- A. Aldehida \(+\) hidroksilamina: \(\ce{R-CHO + H2N-OH -> R-CH=N-OH}\) (oksim). Benar.
- B. Tidak ada gugus amida, jadi hidrolisis tak memberi asam karboksilat \(+\) amina. Salah.
- C. Imina butuh amina primer; di sini aminanya tersier. Salah.
- D. Enamina butuh amina sekunder; aminanya tersier. Salah.
- E. Amida butuh amina dengan N–H; amina tersier tak bisa membentuk amida. Salah.
Hanya gugus aldehida yang reaktif terhadap pereaksi yang diberikan, dan reaksi yang sah adalah pembentukan oksim.
Jawaban: A.
13.3 Soal 10
Dalam spektrum 1H NMR, sebuah sinyal proton muncul sebagai triplet dengan intensitas puncak yang sama (1:2:1). Apa yang ditunjukkan oleh pola pemisahan ini tentang lingkungan proton tersebut?
- A. Proton tersebut berdekatan dengan satu proton lain
- B. Proton tersebut berdekatan dengan dua proton setara (ekuivalen)
- C. Proton tersebut tidak berpasangan dengan proton tetangga mana pun
- D. Proton tersebut tidak berpasangan dengan tiga proton yang setara (ekuivalen)
- E. Proton tersebut berdekatan dengan empat proton yang setara (ekuivalen)
- Ingat aturan \(n+1\): sebuah sinyal proton yang memiliki \(n\) proton tetangga setara akan terpecah menjadi \(n+1\) puncak — mulai dari sini untuk menentukan jumlah tetangga.
- Hitung jumlah puncak pada sinyal yang diberikan, lalu selesaikan persamaan \(n + 1 = \text{jumlah puncak}\) untuk mendapatkan \(n\).
- Verifikasi jawabanmu menggunakan Segitiga Pascal: rasio intensitas puncak multiplet mengikuti baris ke-\(n\) segitiga Pascal (misalnya doublet → \(1:1\), triplet → \(1:2:1\), dst.).
Pola pemisahan sinyal pada \(^1\)H NMR mengikuti aturan \(n+1\): sebuah proton yang punya \(n\) proton tetangga setara akan terpecah menjadi \(n+1\) puncak.
Langkah 1 — Baca jumlah puncak. Sinyal muncul sebagai triplet, artinya ada 3 puncak.
Langkah 2 — Terapkan aturan \(n+1\). \[n + 1 = 3 \;\Rightarrow\; n = 2\] Jadi proton ini bertetangga dengan 2 proton setara.
Langkah 3 — Cek lewat rasio intensitas. Rasio puncak triplet mengikuti segitiga Pascal baris ke-2: \(1:2:1\) — persis seperti yang diberikan. Ini mengonfirmasi \(n=2\).
Maka pola triplet 1:2:1 menunjukkan proton tersebut berdekatan dengan dua proton setara (ekuivalen).
Jawaban: B.
13.4 Soal 11
Sebuah molekul menyerap radiasi gelombang elektromagnetik pada panjang gelombang 6,67 µm. Aktivitas molekul yang terkait dengan penyerapan ini adalah ….
- A. Transisi elektronik
- B. Transisi rotasional
- C. Transisi vibrasi molekul
- D. Transisi pembelahan spin inti
- E. Transisi translasi
- Ubah panjang gelombang \(\lambda = 6{,}67\ \mu\text{m}\) ke bilangan gelombang \(\bar{\nu} = \frac{1}{\lambda}\) (satuan cm\(^{-1}\)) — ini kunci untuk mengenali daerah spektrum.
- Hafal rentang daerah spektrum elektromagnetik: UV-Vis (\(\sim 200\)–\(700\ \text{nm}\)), IR (\(\sim 2{,}5\)–\(25\ \mu\text{m}\) atau \(400\)–\(4000\ \text{cm}^{-1}\)), gelombang mikro (mm–cm), gelombang radio.
- Setiap daerah frekuensi berkaitan dengan jenis gerak/transisi berbeda di molekul — pikirkan: transisi mana (elektronik, vibrasi, rotasi, spin inti) yang energinya cocok dengan radiasi IR?
Panjang gelombang \(\lambda = 6{,}67\ \mu\text{m} = 6{,}67 \times 10^{-6}\ \text{m}\). Ubah ke bilangan gelombang untuk mengenali daerahnya:
\[\bar{\nu} = \frac{1}{\lambda} = \frac{1}{6{,}67 \times 10^{-4}\ \text{cm}} \approx 1500\ \text{cm}^{-1}.\]
Nilai ini jatuh di daerah inframerah (rentang IR khas \(\sim 400\)–\(4000\ \text{cm}^{-1}\), panjang gelombang \(\sim 2{,}5\)–\(25\ \mu\text{m}\)). Radiasi IR berenergi tepat untuk menggetarkan ikatan.
Cocokkan energi foton dengan jenis transisi:
- Elektronik → UV-Vis (\(\lambda \sim 0{,}2\)–\(0{,}7\ \mu\text{m}\))
- Vibrasi → IR (\(\lambda \sim 2{,}5\)–\(25\ \mu\text{m}\)) ← 6,67 µm masuk di sini
- Rotasi → gelombang mikro (\(\lambda \sim\) mm–cm)
- Spin inti (NMR) → gelombang radio
- Translasi → tidak terkuantisasi, tak menyerap radiasi
Karena 6,67 µm berada di daerah inframerah, penyerapan ini menyebabkan transisi vibrasi molekul.
Jawaban: C.
13.5 Soal 12
Panjang gelombang foton yang dipancarkan pada transisi elektronik dari keadaan tereksitasi ketiga ke keadaan tereksitasi pertama pada ion He+ adalah ….
- A. 25,6 nm
- B. 51,2 nm
- C. 102,4 nm
- D. 121,5 nm
- E. 486,0 nm
- Ion \(\ce{He+}\) memiliki satu elektron (mirip atom hidrogen), sehingga berlaku persamaan Rydberg untuk ion mirip-hidrogen: \(\dfrac{1}{\lambda} = R\,Z^2\!\left(\dfrac{1}{n_1^2} - \dfrac{1}{n_2^2}\right)\), dengan \(Z = 2\) untuk helium.
- Perhatikan penomoran keadaan eksitasi: keadaan dasar adalah \(n = 1\), keadaan tereksitasi pertama adalah \(n = 2\), keadaan tereksitasi ketiga adalah \(n = 4\) — tentukan \(n_1\) (level akhir) dan \(n_2\) (level awal) dengan benar sebelum menghitung.
- Faktor \(Z^2\) membuat hasil \(\dfrac{1}{\lambda}\) berbeda signifikan dari hidrogen murni; hitung \(\dfrac{1}{\lambda}\) terlebih dahulu, baru balik menjadi \(\lambda\) (satuan meter → nm).
Ion \(\ce{He+}\) punya 1 elektron (mirip hidrogen) dengan \(Z = 2\). Pakai rumus Rydberg untuk ion mirip-hidrogen:
\[\frac{1}{\lambda} = R\,Z^2\left(\frac{1}{n_1^2} - \frac{1}{n_2^2}\right)\]
Langkah 1 — tentukan level. Keadaan dasar \(n=1\), jadi keadaan tereksitasi pertama \(n=2\) dan keadaan tereksitasi ketiga \(n=4\). Foton dipancarkan saat elektron turun: \(n_2 = 4 \to n_1 = 2\).
Langkah 2 — hitung selisih level.
\[\frac{1}{2^2} - \frac{1}{4^2} = \frac{1}{4} - \frac{1}{16} = \frac{3}{16} = 0{,}1875\]
Langkah 3 — masukkan \(Z^2 = 4\) dan \(R = 1{,}097\times10^{7}\ \text{m}^{-1}\).
\[\frac{1}{\lambda} = (1{,}097\times10^{7})(4)(0{,}1875) = 8{,}23\times10^{6}\ \text{m}^{-1}\]
Langkah 4 — balik jadi \(\lambda\).
\[\lambda = \frac{1}{8{,}23\times10^{6}} = 1{,}215\times10^{-7}\ \text{m} = 121{,}5\ \text{nm}\]
Jawaban: D.
Catatan cepat: faktor \(Z^2 = 4\) membuat \(\lambda\) ion \(\ce{He+}\) tepat \(1/4\) kali transisi \(4\to2\) hidrogen (\(486{,}0\) nm, garis \(\text{H}\beta\)) — itulah jebakan opsi E.
13.6 Soal 13
Dalam spektrum massa dari suatu senyawa, teramati dua puncak ion molekul pada m/z = 78 dan m/z = 80, dengan rasio intensitas relatif sekitar 3:1. Fitur struktur atau rumus molekul manakah yang paling mungkin untuk senyawa ini?
- A. Senyawa mengandung satu atom brom
- B. Senyawa mengandung dua atom brom
- C. Senyawa mengandung dua atom klor
- D. Senyawa mengandung satu atom klor
- E. Senyawa mengandung satu atom sulfur
- Dua puncak ion molekul yang berjarak 2 satuan massa (\(M\) dan \(M+2\)) adalah ciri khas adanya unsur dengan dua isotop stabil — perhatikan unsur-unsur halogen yang memiliki pola ini dalam spektrum massa.
- Gunakan kelimpahan isotop alami untuk mencocokkan rasio intensitas: bandingkan pola \(3:1\) yang teramati dengan kelimpahan isotop \(\ce{^35Cl}/\ce{^37Cl}\) (~75%:25%) versus \(\ce{^79Br}/\ce{^81Br}\) (~50%:50%).
- Jika ada lebih dari satu atom halogen yang sama, pola \(M:M+2:M+4\) mengikuti koefisien binomial — cek apakah puncak ketiga (\(M+4\)) muncul dan bagaimana rasionya untuk membedakan jumlah atom halogen dalam molekul.
Kuncinya ada pada pola dua puncak ion molekul yang berjarak 2 satuan massa (\(M\) di 78 dan \(M+2\) di 80) beserta rasio intensitasnya.
Langkah 1 — Baca pola isotop. Puncak \(M\) dan \(M+2\) yang berdekatan menandakan ada unsur dengan dua isotop yang selisihnya 2 sma. Kandidat: klor (\(\ce{^35Cl}:\ce{^37Cl}\)) atau brom (\(\ce{^79Br}:\ce{^81Br}\)).
Langkah 2 — Pakai rasio intensitas 3:1.
- Klor: kelimpahan \(\ce{^35Cl}:\ce{^37Cl} \approx 75{,}8\% : 24{,}2\% \approx 3:1\).
- Brom: kelimpahan \(\ce{^79Br}:\ce{^81Br} \approx 50\% : 50\% \approx 1:1\).
Rasio \(M:M+2 = 3:1\) cocok persis dengan satu atom Cl, bukan brom.
Langkah 3 — Cek jumlah atom Cl. Untuk dua atom Cl, rasio \(M:M+2:M+4\) menjadi \(\approx 9:6:1\) (puncak \(M+2\) malah lebih besar dari pola 3:1 ini dan muncul \(M+4\)). Karena hanya ada satu puncak \(M+2\) dengan rasio tepat 3:1, berarti hanya satu atom klor.
(Sebagai konsistensi: \(M=78\) sesuai \(\ce{C3H7Cl}\), \(35+43=78\), isotop \(\ce{^37Cl}\) memberi \(M+2=80\).)
Jawaban: D.
13.7 Soal 14
Suatu sampel senyawa dianalisis menggunakan spektroskopi UV-Vis. Diketahui bahwa serapan maksimum (λmaks) terjadi pada panjang gelombang 280 nm, Transisi elektronik manakah yang paling mungkin bertanggung jawab atas serapan ini?
- A. \(\sigma \to \sigma^*\)
- B. \(\pi \to \pi^*\)
- C. \(n \to \sigma^*\)
- D. \(n \to \pi^*\)
- E. \(\sigma \to n^*\)
- Ingat hubungan \(E = \dfrac{hc}{\lambda}\): semakin panjang \(\lambda\), semakin kecil energi transisi yang dibutuhkan. Tentukan dulu, daerah mana 280 nm itu (UV-dekat/tampak)?
- Urutkan jenis transisi elektronik dari energi terbesar ke terkecil: \(\sigma \to \sigma^* > n \to \sigma^* > \pi \to \pi^* > n \to \pi^*\). Transisi mana yang “cocok” dengan energi rendah (λ sekitar 270–300 nm)?
- Perhatikan gugus fungsi apa yang memiliki pasangan elektron bebas (n) sekaligus ikatan rangkap (seperti gugus karbonil ) — gugus itulah yang biasa menyerap di rentang UV-dekat dengan serapan lemah.
Ubah panjang gelombang jadi energi transisi. Hubungan dasar: \(E = \dfrac{hc}{\lambda}\), jadi \(\lambda\) besar berarti energi transisi kecil.
\(\lambda_{max} = 280\) nm sudah masuk daerah UV-dekat (mendekati cahaya tampak), artinya transisi ini berenergi rendah. Urutkan jenis transisi dari yang butuh energi besar ke kecil:
\[\sigma \to \sigma^* \;>\; n \to \sigma^* \;>\; \pi \to \pi^* \;>\; n \to \pi^*\]
- \(\sigma \to \sigma^*\) dan \(n \to \sigma^*\) butuh energi sangat besar (\(\lambda\) jauh di bawah 200 nm), tidak cocok.
- \(\pi \to \pi^*\) (mis. alkena/aromatik sederhana) muncul sekitar 170–220 nm; baru bergeser ke 280 nm kalau konjugasinya panjang.
- \(n \to \pi^*\) adalah transisi berenergi paling rendah, khas gugus kromofor dengan pasangan elektron bebas seperti karbonil (\(\ce{C=O}\)), dan justru muncul di sekitar 270–300 nm dengan serapan lemah.
Jadi serapan pada 280 nm paling mungkin berasal dari transisi \(n \to \pi^*\) (opsi E “\(\sigma \to n^*\)” bukan transisi nyata). Jawaban: D.
13.8 Soal 15

Nama IUPAC senyawa berikut adalah ….
- A. (3R, 4S, 5R)-3-kloro-4-metilheksan-5-ol
- B. (3R, 4S, 5S)-3-kloro-3-metilheksan-5-ol
- C. (3S, 4S, 5S)-3-kloro-5-hidroksi-4-metilheksana
- D. (2S, 3R, 4S)-4-kloro-3-metilheksan-5-ol
- E. (2S, 3R, 5R)-4-kloro-3-metilheksan-5-ol
- Baca proyeksi Fischer dari atas ke bawah untuk mendapatkan rantai karbon vertikal, lalu tentukan rantai terpanjang yang melewati gugus fungsi utama (–OH) sebagai rantai induk.
- Beri penomoran dari ujung yang menghasilkan lokant terkecil untuk gugus fungsi utama, lalu catat posisi setiap substituen (–Cl, –CH₃, –OH).
- Untuk membaca stereokimia dari proyeksi Fischer: ikatan horizontal → mengarah ke pengamat, ikatan vertikal → menjauh; gunakan aturan CIP (R/S) dengan memperhatikan posisi atom H saat menentukan konfigurasi tiap pusat kiral.
Baca kerangka dari proyeksi Fischer (atas ke bawah). Urutan karbon vertikal: CH3CH2– (etil di atas), lalu C yang mengikat Cl, lalu C yang mengikat CH3, lalu C yang mengikat OH, dan –CH3 di bawah. Jadi konektivitas rantai utamanya adalah:
\[\ce{CH3CH2-CHCl-CH(CH3)-CH(OH)-CH3}\]
Tentukan rangka induk. Rantai terpanjang punya 6 karbon (heksana) dengan gugus –OH sebagai akhiran (heksanol). Pada rantai itu menempel: satu Cl dan satu CH3 (metil). Artinya senyawa = sebuah kloro-metilheksanol, bukan heksana biasa (C salah) dan bukan “hidroksi-metilheksana” (juga C salah, karena –OH harus jadi akhiran -ol).
Cocokkan dengan opsi (basis: kecocokan kerangka). Hanya opsi yang berupa kloro-metilheksan-ol dengan letak gugus sesuai gambar (Cl dekat ujung etil, metil di tengah, OH dekat ujung CH3 bawah) yang konsisten, yaitu A. Opsi B/E menaruh substituen di posisi yang tak sesuai gambar, C salah jenis (heksana/hidroksi), D salah penempatan.
Catatan jujur: penamaan pada opsi ini tidak ideal — deskriptor R/S dan penomoran lokant antaropsi tidak benar-benar ketat secara IUPAC. Karena itu pemilihan didasarkan pada kecocokan kerangka/konektivitas, dan hanya A yang rangkanya sesuai.
13.9 Soal 16

Produk utama dari reaksi berikut adalah ….
- A. I (C6H5–CH2–CHCl2)
- B. II (C6H5–CCl2–CH3)
- C. III (C6H5–CHCl–CH2Cl)
- D. IV (turunan 3,5-dikloro pada cincin, gugus etil utuh)
- E. V (turunan dikloro pada cincin, gugus etil utuh)
- Perhatikan kondisi reaksi: suhu sangat tinggi (400–600°C) tanpa katalis asam Lewis (\(\ce{FeCl3}\) atau \(\ce{AlCl3}\)) adalah ciri khas substitusi radikal bebas, bukan substitusi elektrofilik aromatik — jadi tentukan dulu jenis mekanismenya sebelum memilih posisi serangan.
- Pada halogenasi radikal, radikal bebas menyerang posisi C–H yang menghasilkan radikal antara paling stabil; ingat urutan stabilitas radikal: tersier > benzilik/alilik > sekunder > primer — karena resonansi dengan cincin aromatik menstabilkan radikal benzilik.
- Jika reagen ditulis berlebih (excess), pertimbangkan berapa kali substitusi dapat terjadi pada posisi yang paling reaktif tersebut sebelum memilih struktur produk akhir.
Reaksinya adalah halogenasi etilbenzena (\(\ce{C6H5-CH2-CH3}\)) dengan \(\ce{Cl2}\) berlebih pada suhu tinggi \(400\text{–}600^\circ\text{C}\).
Langkah 1 — kenali jenis reaksi dari kondisinya. Suhu sangat tinggi (tanpa katalis \(\ce{FeCl3}\)/\(\ce{AlCl3}\)) berarti ini substitusi radikal bebas, bukan substitusi pada cincin. Jadi klorin masuk ke rantai samping, bukan ke benzena. Ini langsung mencoret opsi IV dan V (keduanya klorinasi cincin).
Langkah 2 — tentukan posisi yang diserang. Radikal menyerang ikatan C–H yang menghasilkan radikal paling stabil. Posisi benzilik (gugus \(\ce{-CH2-}\) yang menempel langsung ke cincin) menghasilkan radikal benzilik yang distabilkan resonansi oleh cincin aromatik, jadi paling reaktif. Posisi \(\ce{CH3}\) di ujung jauh kurang disukai.
Langkah 3 — pakai “berlebih”. Karena \(\ce{Cl2}\) berlebih, kedua atom H di karbon benzilik diganti, menghasilkan gem-diklorida pada karbon benzilik: \[\ce{C6H5-CH2-CH3 ->[Cl2,\ \Delta] C6H5-CCl2-CH3}\]
Ini persis struktur II (dua Cl pada karbon yang menempel ke cincin, ujung tetap \(\ce{CH3}\)). Opsi I dan III menempatkan Cl di karbon ujung (\(\ce{CH3}\)) yang bukan posisi paling reaktif.
Jawaban: B (II).
13.10 Soal 17
Jika 0,15 mol HSCH2CH2OH bereaksi secara berurutan pada suhu 25 °C dengan 0,30 mol NaH, 0,15 mol CH3CH2Br dan H2O, maka produk utama yang terbentuk adalah ….
- A. \(\ce{HSCH2CH2OCH2CH3}\)
- B. \(\ce{CH3CH2SCH2CH2OCH2CH3}\)
- C. \(\ce{CH3CH2SCH2CH2OH}\)
- D. \(\ce{CH2=CH2}\)
- E. \(\ce{CH3CH3}\)
- Molekul \(\ce{HSCH2CH2OH}\) punya dua gugus yang bisa kehilangan proton: \(\ce{-SH}\) dan \(\ce{-OH}\). Bandingkan nilai \(\mathrm{p}K_a\) keduanya — gugus mana yang lebih asam (lebih mudah dilepas protonnya lebih dulu)?
- NaH adalah basa kuat. Perhatikan perbandingan mol NaH terhadap substrat — apakah cukup untuk mendeprotonasi satu gugus atau dua gugus sekaligus?
- Ketika hanya ada 1 ekuivalen alkil halida (\(\ce{CH3CH2Br}\)) untuk dua nukleofil (\(\ce{RS^-}\) vs \(\ce{RO^-}\)), gunakan prinsip HSAB (Hard-Soft Acid-Base): nukleofil yang lebih lunak (lebih besar, lebih terpolarisasi) bereaksi lebih cepat dalam reaksi \(\mathrm{S_N2}\).
Reaktan: \(\ce{HSCH2CH2OH}\) (2-merkaptoetanol) punya dua gugus asam: \(\ce{-SH}\) (\(\mathrm{p}K_a \approx 10\)) dan \(\ce{-OH}\) (\(\mathrm{p}K_a \approx 16\)).
Langkah 1 — NaH mendeprotonasi. Mol NaH = 0,30; mol substrat = 0,15. Jadi tersedia 2 ekuivalen basa kuat, cukup melepas kedua proton: \[\ce{HSCH2CH2OH + 2NaH -> {}^{-}SCH2CH2O^{-} + 2H2 ^}\]
Langkah 2 — alkilasi dengan 0,15 mol \(\ce{CH3CH2Br}\) (hanya 1 ekuivalen). Reaksi \(\mathrm{S_N2}\) memilih nukleofil yang paling kuat. Tiolat (\(\ce{RS-}\)) jauh lebih nukleofilik (lebih lunak, lebih terpolarisasi) daripada alkoksida, jadi etil masuk ke belerang: \[\ce{CH3CH2-S-CH2CH2-O^{-}}\]
Langkah 3 — hidrolisis dengan \(\ce{H2O}\). Alkoksida yang tersisa diprotonasi kembali: \[\ce{CH3CH2-S-CH2CH2-OH}\]
Produk utama = \(\ce{CH3CH2SCH2CH2OH}\), yaitu pilihan C.