9  Soal 21–30

Campuran kesetimbangan (21–24) dan organik (25–29). Untuk soal organik, fokus pada mengenali pola reaksi — kalau belum hafal mekanisme, lihat tautan video di tiap soal.


9.1 Soal 21 — Kelarutan: [Ag⁺] tertinggi

Soal 21 asli

Larutan jenuh mana yang punya \([\ce{Ag+}]\) paling tinggi?

Jangan tertipu oleh \(K_{sp}\) terkecil/terbesar! Bentuk rumus berbeda (\(\ce{AgCl}\) vs \(\ce{Ag2CO3}\) vs \(\ce{Ag3PO4}\)) membuat hubungan \(K_{sp}\)–kelarutan berbeda. Hitung \([\ce{Ag+}]\) untuk masing-masing.

Pertanyaannya \([\ce{Ag+}]\) paling tinggi, bukan \(K_{sp}\) paling besar. Karena bentuk rumusnya beda-beda, hubungan \(K_{sp}\to[\ce{Ag+}]\) juga beda. Jadi hitung \([\ce{Ag+}]\) tiap garam dari kelarutan \(s\) (R-Ksp):

Garam \(K_{sp}\) Rumus \([\ce{Ag+}]\)
\(\ce{AgCl}\) \(1{,}8\times10^{-10}\) \(s^2\), \([\ce{Ag+}]=s\) \(1{,}3\times10^{-5}\)
\(\ce{Ag2CO3}\) \(8{,}1\times10^{-12}\) \(4s^3\), \([\ce{Ag+}]=2s\) \(\mathbf{2{,}5\times10^{-4}}\)
\(\ce{Ag3PO4}\) \(1{,}8\times10^{-18}\) \(27s^4\), \([\ce{Ag+}]=3s\) \(4{,}8\times10^{-5}\)
\(\ce{Ag2S}\) \(6{,}0\times10^{-51}\) \(4s^3\), \([\ce{Ag+}]=2s\) \(2{,}3\times10^{-17}\)
\(\ce{Ag2CrO4}\) \(1{,}1\times10^{-12}\) \(4s^3\), \([\ce{Ag+}]=2s\) \(1{,}3\times10^{-4}\)

Contoh hitungan \(\ce{Ag2CO3}\): \(4s^3 = 8{,}1\times10^{-12} \Rightarrow s = 1{,}3\times10^{-4}\), jadi \([\ce{Ag+}] = 2s = 2{,}5\times10^{-4}\).

Nilai \([\ce{Ag+}]\) terbesar dipegang oleh \(\ce{Ag2CO3}\).

Jawaban: B. Pelajaran: \(K_{sp}\) kecil tidak otomatis berarti \([\ce{Ag+}]\) kecil — stoikiometri ikut menentukan.


9.2 Soal 22 — Urutan K tiga dekomposisi padat

Soal 22 asli

Ketiga reaksi punya tekanan total 1 atm saat setimbang. Urutkan \(K\).

  • Untuk reaksi dekomposisi padatan, ekspresi \(K_p\) hanya melibatkan tekanan parsial gas — padatan murni tidak masuk ke dalam \(K_p\) (lihat Kesetimbangan).
  • Karena \(P_\text{total} = 1\ \text{atm}\) dan semua gas muncul dari satu padatan, bagikan tekanan total secara proporsional terhadap jumlah mol gas tiap spesies — perbandingan mol menentukan tekanan parsial masing-masing.
  • Hitung \(K_p\) tiap reaksi dengan mengalikan tekanan parsial gas sesuai koefisien stoikiometri, lalu bandingkan ketiga nilai yang kamu peroleh untuk menentukan urutannya.

Untuk dekomposisi padat, \(K_p\) hanya melibatkan gas (R-Kesetimbangan) — padatan tidak masuk. Ketiganya berangkat dari padatan murni dengan \(P_\text{total}=1\) atm, jadi tekanan parsial gas tinggal dibagi menurut perbandingan mol.

I. \(\ce{CaCO3 <=> CaO + CO2}\) — hanya 1 gas, jadi \(P_\ce{CO2}=1\) atm. \[K_1 = 1\]

II. \(\ce{NH4HS <=> NH3 + H2S}\) — 2 gas sama banyak, masing-masing \(\tfrac12\) atm. \[K_2 = (0{,}5)(0{,}5) = 0{,}25\]

III. \(\ce{NH2COONH4 <=> 2NH3 + CO2}\) — perbandingan mol gas \(2:1\), jadi \(P_\ce{NH3}=\tfrac23\) atm dan \(P_\ce{CO2}=\tfrac13\) atm. \[K_3 = \left(\tfrac23\right)^2\left(\tfrac13\right) = \tfrac{4}{27} \approx 0{,}148\]

Bandingkan: \(1 > 0{,}25 > 0{,}148\), sehingga \(K_1 > K_2 > K_3\).

Jawaban: D.


9.3 Soal 23 — Dua padatan terdekomposisi bersamaan

Soal 23 asli

\(\ce{X <=> A + 2B}\), \(K_{p1}=9\times10^{-3}\); \(\ce{Y <=> 2B + C}\), \(K_{p2}=4{,}5\times10^{-3}\). Tekanan total campuran gas saat setimbang?

  • Padatan tidak memiliki tekanan parsial, jadi \(K_p\) hanya melibatkan gas A, B, dan C. Tuliskan ekspresi \(K_{p1} = P_A \cdot P_B^2\) dan \(K_{p2} = P_B^2 \cdot P_C\) terlebih dahulu.
  • Gas B dihasilkan dari dua reaksi sekaligus; gunakan stoikiometri masing-masing reaksi untuk menyatakan \(P_B\) dalam bentuk \(P_A\) dan \(P_C\), lalu cari hubungan \(P_A\) terhadap \(P_C\) dengan membagi kedua \(K_p\).
  • Setelah semua tekanan dinyatakan dalam satu variabel, substitusi ke salah satu persamaan \(K_p\) untuk mendapatkan nilai numeriknya, kemudian jumlahkan seluruh tekanan parsial.

Padatan tidak masuk dalam \(K_p\), jadi yang dihitung hanya tekanan parsial gas. Gas B muncul dari dua reaksi, maka kuncinya adalah menyatakan semua tekanan lewat satu variabel.

Langkah 1 — hubungan dari stoikiometri. Tiap satuan X yang terurai memberi \(1\) A dan \(2\) B, jadi \(P_B\) dari X \(= 2P_A\). Tiap satuan Y memberi \(2\) B dan \(1\) C, jadi \(P_B\) dari Y \(= 2P_C\). Total: \[ P_B = 2P_A + 2P_C \]

Langkah 2 — bagi kedua \(K_p\). Karena \(K_{p1}=P_A\,P_B^2\) dan \(K_{p2}=P_B^2\,P_C\): \[ \frac{K_{p1}}{K_{p2}} = \frac{P_A}{P_C} = \frac{9\times10^{-3}}{4{,}5\times10^{-3}} = 2 \;\Rightarrow\; P_A = 2P_C \]

Langkah 3 — cari \(P_C\). Substitusi \(P_A=2P_C\) ke Langkah 1: \(P_B = 2(2P_C)+2P_C = 6P_C\). Masukkan ke \(K_{p2}\): \[ (6P_C)^2\,P_C = 36\,P_C^3 = 4{,}5\times10^{-3} \;\Rightarrow\; P_C^3 = 1{,}25\times10^{-4} \;\Rightarrow\; P_C = 0{,}05 \] Maka \(P_A = 0{,}10\) dan \(P_B = 0{,}30\) bar.

Langkah 4 — tekanan total. \[ P_\text{total} = P_A + P_B + P_C = 0{,}10 + 0{,}30 + 0{,}05 = 0{,}45\ \text{bar} \]

Jawaban: A.


9.4 Soal 24 — Urutan kekuatan asam

Soal 24 asli Soal 24 asli

Tiga kesetimbangan berada di sebelah kanan. Urutkan kekuatan asam.

  • Ingat prinsip Bronsted-Lowry: reaksi asam-basa selalu bergeser ke arah pembentukan asam yang lebih lemah. Jadi bila kesetimbangan condong ke kanan, asam di sisi kiri lebih kuat dari asam di sisi kanan.
  • Identifikasi dulu mana yang berperan sebagai asam (pemberi \(\ce{H+}\)) di sisi kiri dan sisi kanan pada setiap reaksi — hasilnya akan memberi tiga perbandingan berpasangan.
  • Setelah mendapat tiga pasang perbandingan, gabungkan menjadi satu urutan tunggal (seperti menyusun rantai: jika A > B dan B > C, maka A > B > C).

Kunci: reaksi asam–basa selalu jalan ke arah asam lebih lemah. Jadi kalau kesetimbangan condong ke kanan, berarti asam di sisi kiri lebih kuat daripada asam di sisi kanan.

Tandai mana yang bertindak sebagai asam (pemberi \(\ce{H+}\)) di tiap reaksi, lalu bandingkan kiri vs kanan:

Reaksi (condong kanan) Asam kiri Asam kanan Kesimpulan
\(\ce{N2H5+ + NH3 -> NH4+ + N2H4}\) \(\ce{N2H5+}\) \(\ce{NH4+}\) \(\ce{N2H5+} > \ce{NH4+}\)
\(\ce{NH3 + HBr -> NH4+ + Br-}\) \(\ce{HBr}\) \(\ce{NH4+}\) \(\ce{HBr} > \ce{NH4+}\)
\(\ce{N2H4 + HBr -> N2H5+ + Br-}\) \(\ce{HBr}\) \(\ce{N2H5+}\) \(\ce{HBr} > \ce{N2H5+}\)

Gabungkan ketiga perbandingan:

\[\ce{HBr} > \ce{N2H5+} > \ce{NH4+}\]

Jawaban: D.


9.5 Soal 25 — Sintesis: asam → keton aromatik

Soal 25 asli

Asam 3-metilbutanoat → (i) \(\ce{SOCl2}\) → (ii) \(\ce{C6H6}\), \(\ce{AlCl3}\) → (iii) \(\ce{H2NNH2/KOH}\).

  • Tahap pertama: \(\ce{SOCl2}\) mengubah gugus \(\ce{-COOH}\) menjadi asil klorida \(\ce{-COCl}\) — ini “mengaktifkan” asam agar bisa bereaksi selanjutnya.
  • Tahap kedua: asil klorida + benzena + \(\ce{AlCl3}\) adalah asilasi Friedel–Crafts — gugus \(\ce{-CO-}\) menempel langsung ke cincin membentuk keton aromatik (berbeda dari alkilasi yang bisa terjadi penataan ulang).
  • Tahap ketiga: reagen \(\ce{H2NNH2/KOH}\) adalah reduksi Wolff–Kishner — mengubah \(\ce{C=O}\) menjadi \(\ce{CH2}\) tanpa memindahkan posisi karbon, jadi perhatikan karbon mana yang tadinya terikat ke cincin benzena.

Bahan awal: asam 3-metilbutanoat \(\ce{(CH3)2CH-CH2-COOH}\). Telusuri tiga tahap:

  1. \(\ce{SOCl2}\) → ubah asam karboksilat jadi asil klorida: \[\ce{(CH3)2CH-CH2-COOH ->[SOCl2] (CH3)2CH-CH2-COCl}\]

  2. \(\ce{C6H6}\), \(\ce{AlCl3}\) (asilasi Friedel–Crafts) → gugus asil menempel ke benzena, terbentuk keton aromatik: \[\ce{(CH3)2CH-CH2-COCl ->[C6H6,\ AlCl3] Ph-CO-CH2-CH(CH3)2}\]

  3. \(\ce{H2NNH2/KOH}\) (reduksi Wolff–Kishner) → ubah \(\ce{C=O}\) jadi \(\ce{CH2}\), tanpa penataan ulang: \[\ce{Ph-CO-CH2-CH(CH3)2 ->[H2NNH2/KOH] Ph-CH2-CH2-CH(CH3)2}\]

Produk akhir adalah isopentilbenzena \(\ce{Ph-CH2-CH2-CH(CH3)2}\) — benzena dengan rantai isopentil lurus, di mana karbon yang menempel ke cincin adalah \(\ce{CH2}\).

Kunci: karena Wolff–Kishner tidak memindahkan posisi karbon, atom yang dulunya \(\ce{C=O}\) (terikat langsung ke cincin) tetap di tempatnya dan jadi \(\ce{CH2}\). Jadi cincin terikat pada \(\ce{CH2}\), bukan pada karbon bercabang. Inilah struktur V (bukan IV, yang malah punya cabang langsung di karbon benzilik = 2-fenilpentana — itu salah).

Jawaban: E.


9.6 Soal 26 — Sintesis dari asetilena

Soal 26 asli

\(\ce{HC#CH}\)\(\ce{NaNH2}\)\(\ce{CH3I}\)\(\ce{CH3Li}\) → epoksida → \(\ce{H3O+}\).

  • Ikuti reagen satu per satu secara berurutan: setiap langkah mengubah struktur karbon sebelumnya. Perhatikan basa kuat (\(\ce{NaNH2}\) dan \(\ce{CH3Li}\)) — keduanya bertindak sebagai pencabut H ujung alkuna membentuk ion asetilida \(\ce{R-C#C^-}\).
  • Ion asetilida adalah nukleofil kuat yang dapat menyerang elektrofil; pada langkah \(\ce{CH3I}\) terjadi alkilasi (SN2), sedangkan pada langkah epoksida terjadi pembukaan cincin — hitung berapa atom C yang bertambah di setiap langkah.
  • Saat asetilida membuka epoksida (oksirana), serangan nukleofil terjadi di karbon yang kurang terhalang (kurang substituen), menghasilkan gugus \(\ce{-CH2-CH2-OH}\) setelah protonasi dengan \(\ce{H3O+}\). Tentukan posisi ikatan rangkap tiga dan gugus \(\ce{-OH}\) pada produk akhir.

Ikuti reagen satu per satu. Kuncinya: \(\ce{NaNH2}\) dan \(\ce{CH3Li}\) adalah basa kuat yang mencabut H ujung alkuna, lalu karbanion (asetilida) bertindak sebagai nukleofil.

  1. \(\ce{NaNH2}\) + \(\ce{CH3I}\): \(\ce{NaNH2}\) mencabut H ujung asetilena → asetilida \(\ce{HC#C^-}\). Asetilida menyerang \(\ce{CH3I}\) (alkilasi) → \[\ce{HC#C-CH3}\ (\text{propuna}).\]

  2. \(\ce{CH3Li}\): mencabut H ujung propuna → asetilida baru \(\ce{CH3-C#C^-}\) (nukleofil).

  3. Epoksida (oksirana) + \(\ce{H3O+}\): asetilida membuka cincin epoksida dari sisi C yang kurang ruang, menambah dua karbon \(\ce{-CH2CH2-O^-}\). Setelah diprotonasi \(\ce{H3O+}\): \[\ce{CH3-C#C-CH2-CH2-OH}.\]

Produk A = pent-3-in-1-ol: sebuah alkuna internal dengan alkohol primer (\(\ce{-CH2CH2OH}\)) di ujung lain. Itu persis struktur II.

Jawaban: B.


9.7 Soal 27 — Penentuan struktur dari NMR + IR

Soal 27 asli

\(\ce{C5H10O}\): ¹H-NMR doublet δ 1,10; singlet δ 2,10; septet δ 2,50. IR kuat ~1720 cm⁻¹.

  • Hitung derajat ketakjenuhan dari rumus \(\ce{C5H10O}\), lalu cocokkan dengan sinyal IR kuat ~1720 cm⁻¹ untuk menentukan jenis gugus fungsional yang ada (ref IR).
  • Gunakan aturan \(n+1\) pada pola splitting NMR: doublet dan septet yang berpasangan merupakan “tanda tangan” khas satu gugus tertentu — pikirkan berapa H yang saling bertetangga (ref ¹H-NMR).
  • Setelah mendapat dua “potongan” fragmen dari NMR, rakit keduanya dengan memperhatikan total atom \(\ce{C5H10O}\) agar strukturnya lengkap dan konsisten.

Rumus \(\ce{C5H10O}\) punya 1 derajat ketakjenuhan, dan IR kuat di ~1720 cm⁻¹ menandakan gugus karbonil \(\ce{C=O}\) (R-IR). Jadi senyawanya keton atau aldehida.

Baca pola NMR pakai aturan \(n+1\) (R-¹H-NMR):

  • Doublet δ 1,10 (dua \(\ce{CH3}\)) + septet δ 2,50 (satu CH): ini “tanda tangan” gugus isopropil \(\ce{(CH3)2CH-}\) — dua metil setara hanya bertetangga 1 H (jadi doublet), dan satu CH bertetangga 6 H sehingga pecah jadi 7 puncak (septet).
  • Singlet δ 2,10 (\(\ce{CH3}\)): metil tanpa tetangga H, posisinya tepat di sebelah \(\ce{C=O}\) → potongan \(\ce{CH3-CO-}\).

Rakit kedua potongan: \(\ce{(CH3)2CH-CO-CH3}\) = 3-metil-2-butanon (metil isopropil keton), rumus \(\ce{C5H10O}\). ✓

Ini cocok dengan struktur V.

Jawaban: E.


9.8 Soal 28 — Reaksi radikal + eliminasi + adisi

Soal 28 asli

1-metilindana → (1) \(\ce{Br2}\)/hν → (2) \(\ce{CH3OH}\), \(\ce{CH3ONa}\), kalor → (3) \(\ce{Br2}\)/\(\ce{CCl4}\).

  • Pada Langkah 1, \(\ce{Br2}/h\nu\) adalah brominasi radikal — radikal bebas menyerang ikatan C–H yang menghasilkan radikal paling stabil. Perhatikan posisi C1 di 1-metilindana: apakah ia benzilik? Apakah ia tersier? Dua keuntungan stabilitas sekaligus.
  • Pada Langkah 2, \(\ce{CH3ONa}\) (basa kuat, kondisi panas) memicu eliminasi E2. Identifikasi atom H yang bisa diambil (\(\beta\)-H) dan pikirkan ikatan rangkap mana yang terbentuk — manakah posisi yang menghasilkan alkena terkonjugasi dengan cincin benzena (paling stabil)?
  • Pada Langkah 3, \(\ce{Br2}/\ce{CCl4}\) adalah adisi elektrofilik anti pada alkena. Dua atom Br masuk dari sisi berlawanan terhadap ikatan rangkap — gunakan prinsip ini untuk menentukan hubungan stereokimia kedua Br pada produk akhir.

Bahan awal: 1-metilindana — cincin benzena menyatu dengan cincin lima; karbon C1 (posisi benzilik) sudah membawa gugus \(\ce{-CH3}\) dan satu H.

Langkah 1 — /h\(\nu\) (brominasi radikal). Brominasi radikal menyerang H pada posisi yang radikalnya paling stabil, yaitu C1 benzilik (radikal benzilik sekaligus tersier). Jadi Br masuk di C1 itu sendiri, bukan di karbon lain. Hasil: 1-bromo-1-metilindana (Br dan \(\ce{CH3}\) sama-sama di C1).

Langkah 2 — /kalor (basa kuat, E2). Eliminasi HBr dari C1 (bromida tersier benzilik). H-\(\beta\) ada di C2, sehingga terbentuk ikatan rangkap C1=C2 di dalam cincin (terkonjugasi dengan benzena = paling stabil). Gugus metil tetap menempel di C1.

Langkah 3 — / (adisi anti). \(\ce{Br2}\) mengadisi ikatan rangkap C1=C2 secara anti: satu Br ke C1 (jadi C1 mengikat Br + \(\ce{CH3}\)), satu Br ke C2. Karena adisinya anti, dua Br berada di sisi berlawanan (satu wedge, satu dash = trans).

Jadi produknya: indana dengan Br di C1 (benzilik, bersama metil) dan Br di C2, anti/trans — persis struktur V.

Kunci membedakan opsi: metil tidak pernah berpindah dari C1, jadi struktur III (metil di C3) langsung gugur. Lalu pilih stereokimia anti (V), bukan cis (I), karena adisi \(\ce{Br2}\) selalu anti.

Jawaban: E (struktur V).


9.9 Soal 29 — Konfigurasi absolut (R/S)

Soal 29 asli

3-bromo-2-vinilsikloheksanol — tentukan konfigurasi absolut tiga pusat kiral.

  • Mulai dengan mengidentifikasi ketiga pusat kiral (C yang mengikat 4 gugus berbeda): C1 (OH), C2 (vinil), dan C3 (Br) — lihat aturan CIP/R-S untuk cara menetapkan prioritas.
  • Pada setiap pusat, urutkan prioritas 1→2→3→4 pakai aturan CIP: nomor atom lebih tinggi = prioritas lebih tinggi; jika seri, bandingkan atom berikutnya. Ingat vinil () dihitung sebagai C(C,C,H) karena ikatan rangkap “diduplikasi”.
  • Setelah urutan prioritas ditentukan, periksa posisi gugus prioritas ke-4 (H) di tiap pusat: jika H mengarah ke belakang (dash), arah putaran 1→2→3 dibaca langsung; jika H mengarah ke depan (wedge), hasilnya harus dibalik (CW↔︎CCW).

Senyawa: 3-bromo-2-vinilsikloheksanol. Penomoran: C1 = OH, C2 = vinil (), C3 = Br. Dari gambar: C1–OH = wedge, C2–vinil = dash, C3–Br = wedge.

Lihat aturan CIP / R-S.

Langkah 1 — Prioritas tiap pusat.

  • C1: OH (1) > C2 vs C6 (2/3) > H (4). C2 mengikat {C(vinil), C3, H} = {C,C,H}; C6 mengikat {C5, H, H} = {C,H,H}. Jadi C2 > C6. Urutan: OH > C2 > C6 > H.
  • C2: vinil duplikat jadi C(C,C,H) > C3 (mengikat Br) … cek: C3 = {Br,C,H}, atom pertama Br mengalahkan vinil. Jadi C3 (ada Br) > vinil > C1 > H. Urutan: C3 > vinil > C1 > H.
  • C3: Br (1) > C2 vs C4 > H (4). C2 = {C,C,H} (ada vinil) > C4 = {C,H,H}. Urutan: Br > C2 > C4 > H.

Langkah 2 — Posisi H (prioritas terendah). Pada tiap pusat, gugus ber-wedge/dash yang digambar bukan H, sehingga H selalu mengarah menjauh dari pengamat. Maka arah putaran 1→2→3 dibaca langsung (tanpa dibalik).

Langkah 3 — Baca arah tiap pusat.

  • C1: OH (wedge, keluar) → C2 → C6. H menjauh → baca langsung. Searah jarum jam → R.
  • C2: C3 → vinil (dash) → C1. H menjauh → baca langsung. Berlawanan jarum jam → S.
  • C3: Br (wedge, keluar) → C2 → C4. H ada di dash (menjauh) → baca langsung Br→C2→C4, berlawanan jarum jam → S. (Jangan dibalik — H sudah di belakang.)

Langkah 4 — Gabung. \[1R,\ 2S,\ 3S\]

Konfigurasi absolutnya 1R,2S,3Sopsi D.

Catatan jujur: jawaban bergantung penuh pada arah wedge/dash di gambar (C1-OH wedge, C2-vinil dash, C3-Br wedge). Bila orientasi gambar berbeda, konfigurasi bisa berubah.


9.10 Soal 30 — Energi kisi terbesar

Soal 30 asli

  • Energi kisi ditentukan oleh hukum Coulomb: \(U \propto \frac{|z_+ \cdot z_-|}{r_+ + r_-}\) — bandingkan dulu hasil kali muatan (\(|z_+ \cdot z_-|\)) untuk semua pilihan, senyawa bermuatan lebih besar langsung unggul.
  • Setelah menyisihkan senyawa dengan hasil kali muatan lebih kecil, bandingkan jarak antar-ion (\(r_+ + r_-\)) pada kandidat yang tersisa — semakin kecil jarak, energi kisi semakin besar.
  • Gunakan tren jari-jari ion dalam tabel periodik: dalam satu golongan, jari-jari ion makin besar ke bawah; bandingkan ukuran anion pada kandidat akhir untuk menentukan mana yang memiliki \(r\) lebih kecil.

Energi kisi (lattice energy) makin besar bila muatan ion makin besar dan jarak antar-ion makin kecil. Dari hukum Coulomb:

\[ U \propto \frac{|z_+ \cdot z_-|}{r_+ + r_-} \]

Yang paling menentukan adalah hasil kali muatan, karena masuk sebagai pengali langsung.

Senyawa Muatan Hasil kali muatan
\(\ce{MgO}\) \(2^+ / 2^-\) \(4\)
\(\ce{MgS}\) \(2^+ / 2^-\) \(4\)
\(\ce{NaF},\ \ce{NaCl},\ \ce{NaBr}\) \(1^+ / 1^-\) \(1\)

Tiga senyawa natrium langsung kalah karena hasil kali muatannya cuma \(1\). Tinggal bandingkan \(\ce{MgO}\) vs \(\ce{MgS}\): keduanya hasil kali muatan \(4\), tapi ion \(\ce{O^2-}\) lebih kecil daripada \(\ce{S^2-}\), jadi jarak antar-ion di \(\ce{MgO}\) lebih pendek \(\Rightarrow\) energi kisinya lebih besar.

Jawaban: A (\(\ce{MgO}\)). Patokan cepat: muatan tinggi + ion kecil = energi kisi terbesar.